Kehidupan dan sifat-sifat Utsman bin Affan
Utsman bin
Affan termasuk salah seorang yang pertama masuk Islam. Ia pernah menjadi
sekretaris Rasulullah s.a.w. menuliskan wahyu. Dan di zaman Abu Bakar ia
menjadi penasehat Khalifah. Utsman bin Affan juga
terkenal dengan kesalehan dan kejujurannya dalam agama. Dia pernah menafkahkan
sebagian besar hartanya untuk memajukan Islam. Dia disayangi oleh Rasulullah
sampai dikawinkan dengan puterinya Rukayyah, setelah Rukayyah wafat dikawinkan
dengan puterinya yang lain yaitu Ummi Kultsum. Oleh karena itu Utsman bin Affan
diberi gelar Dzun-Nuraihi, yang artinya: yang mempunyai dua cahaya, dan pernah
hijrah dua kali, ke Habasyah dan Madinah.
Penaklukan di zaman Utsman bin Affan
Di zaman
Khalifah Utsman bin Affan daerah khilafah Islam bertambah luas, seluruh tanah
Persia sampai di Tebristan, Azerbeijan dan Armenia. Di zamannya pula armada
Islam mula-mula dibangun atas anjuran dan usaha Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang ketika
itu menjadi Wali (Gubernur) Syam. Armada itu sengaja digunakan untuk menyerang
Byzantium. Dengan angkatan laut itulah Mu’awiyah menaklukkan beberapa negeri
Asia Kecil dan pesisir Laut Hitam. Dengan armada itu pula ia menduduki pulau
Cyprus dan Rhodus.
Serbuan serdadu Romawi atas Mesir
Kejatuhan
Mesir ke tangan Islam sangat merugikan Byzantium. Oleh karena itu mereka
melanggar perjanjian damai yang mereka buat dengan panglima ‘Amru bin al-‘Ash
dahulu. Kota Iskandariah diserang, namun mereka dapat dipukul mundur paa tahun
25 H. (644 M). Kemudian pada tahun 31 H (654 M.) mereka menyerang Mesir untuk
kali kedua dipimpin langsung oleh Kaisar Konstantyn putera Heraklius. Akan
tetapi penyerangan itu dapat juga dipukul mundur oleh laskar Islam dibawah
pimpinan panglima Abdullah bin Sa’ad. Dalam pertempuran itu juga turut serta
armada dari kedua belah pihak yang terkenal dengan dengan nama ‘Perang Zatus
Shawari’.
Di zaman
Utsman bin Affan ini panglima Abdullah menundukkan Afrika (Tunisia) dan
menyerang negeri Nubia (sebelah Utara Sudan), sehingga rajanya terpaksa
mengikat perjanjian admai dengannya.
Haluan politik Utsman bin Affan
Utsman bin
Affan diangkat menjadi Khalifah ketika ia berumur 70 tahun. Tabi’atnya
ramah-tamah dan pekertinya lemah-lembut. Keteguhan hati dan kecakapannya
seperti yang ada pada Abu Bakar dan Umar tak ada paa dirinya. Pada hal sifat
ini perlu sekali bagi seseorang yang akan mengendalikan suatu negara yang
sangat luas sebagai negara Islam dikala itu. Apalagi zaman itu adalah permulaan
zaman pancaroba bagi kehidupan bangsa Arab, yaitu permulaan masa perpindahan
dari kehidupan bersahaja kepada kehidupan yang mewah dan penuh dengan
kesenangan, dikarenakan kekayaan yang terus mengalir melipah, datang dari
negeri-negeri yang ditaklukkan.
Utsman bin
Affan mengangkat para wali (gubernur) dari kerabatnya, hal ini dikarenakan
kepercayaan Utsman bin Affan kepada mereka lebih besar daripada kepada orang
lain yang bukan keluarganya. Adapun haluan ini diambil dengan harapan
memperkuat persatuan khilafah Islam dan menghindari perpecahan. ‘Amru bin al-‘Ash wali Mesir di pecatnya dan
penggantinya diangkat Abdullah bin Sa’ad saudara sesusuannya.
Demikian juga
wali Bashrah Abu Musa al-Asy’ari digantikan dengan Abdullah bin ‘Amir
keluarganya juga, sedang wali-wali lama yang termasuk kerabatnya seperti
Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai wali Syam, masih tetap dalam jabatannya. Untuk
menjadi penasehatnya diangkat juga dari kerabatnya yaitu Marwan bin al-Hakam.
Begitu pula
sekalian jabatan tinggi di zaman Khalifah Utsman juga diangkat dari
keluarganya, yaitu keluarga Bani Umayyah. Jadi khilafah Islam ketika itu
seakan-akan telah menjadi daulat Bani Umayyah.
Perbuatan yang
dianggap ganjil oleh beberapa sahabat ini termasuk cara pembelanjaan harta
benda negara menurut cara yang belum pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar
dan Umar bin Khattab. Kepada Abdullah bin Sa’ad diberikan hak menguasai
seperlima dari harta rampasan perang yang diperolehnya dari Afrika. Dan kepada
kaum Quraisy diizinkan memiliki tanah-tanah di Irak dan Syam dan di
daerah-daerah yang lain, sehingga menimbulkan kebencian penduduk negara-negara
bagian kepada pemerintahannya. Maka tidak
mengherankan, kalau siasat Utsman bin Affan ini menyebabkan timbulnya kemarahan
dan kebencian ummat Islam kepada dirinya dan kepada wali-walinya. Apalagi
perbuatan wali-wali itu memungut pajak terlalu tinggi, makin memperbesar api
kemarahan itu.
Fitnah yang membawa kematian Utsman bin Affan
Api kemarahan
sebagian besar umat Islam kepada Utsman bin Affan semakin lama semakin menyala.
Dalam pada itu seorang penghasut dari bangsa Yahudi yang baru masuk Islam,
Abdullah bin Saba’ namanya, menambah berkobarnya api yang telah menyala itu.
Dia mengembara
kemana-mana dan di kota-kota besar, menghasut dan menjelek-jelekkan nama Utsman
bin Affan dan wali-wali yang diangkatnya. Racun fitnah itu disebarkan di Hijaz,
Bashrah, Kufah, Syam dan Mesir. Disini dia menghasut sejadi-jadinya, sehingga
ia berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah berwasiat supaya pangkat
Khalifah diberikan kepada Ali bin Abi Talib, dan dia sajalah yang berhak
menjadi Khalifah. Hasutannya itu termakan oleh rakyat dan mereka berpendapat
bahwa Utsman bin Affan mengambil pangkat Khalifah dengan jalan yang tidak
benar, yaitu melanggar wasiat Rasulullah s.a.w.
Ibnu Saba’ dan
para pengikutnya di Mesir, di Basrah dan Kufah telah sepakat untuk datang ke
Madinah membuat perhitungan dengan Khalifah, kalau perlu dengan kekerasan.
Maka timbullah
huru-hara dimana dan utusan Mesir yang akan menghadap Khalifah Utsman bin Affan
telah tiba di Madinah. Mereka itu berjumlah 600 orang dan dikepalai oleh
Muhamma bin Abi Bakar dan Muhammad bin Abi Huzaifah. Mereka memohonkan kepada
Utsman bin Affan untuk mengganti sekalian wali-walinya dan memecat Abdullah bin
Sa’ad wali Mesir. Permintaan mereka itu dituluskan oleh Utsman bin Affan.
Abdullah dipecat dan sebagai gantinya diganti dengan Muhammad bin Abi Bakar.
Pemberontak mengepung Kediaman Khalifah Utsman
Keputusan
Khalifah ini menyenangkan hati utusan Mesir itu, dan merekapun pulang. Akan
tetapi mereka kemudian kembali mendapatkan utusan Utsman yang membawa sepucuk
surat yang ditulis oleh Marwan dan di stempel dengan stampel Utsman sendiri,
surat itu berisi perintah Utsman kepada wali Mesir Abdullah bin Sa’ad supaya
menindas dan menghukum sekalian kaum pemberontak. Utusan itu mengatakan bahwa
surat itu mereka dapatkan dari seorang suruhan yang sedang dalam perjalanan
menuju Mesir. Utsman bin Affan menyangkal tuduhan itu dan dia bersumpah
menyatakan tidak sekali-kali menyuruhnya membuat dan ia tidak tahu menahu
dengan surat itu.
Mereka meminta
kepada Utsman supaya Marwan diserahkan kepada mereka untuk diperiksa lebih
lanjut. Akan tetapi Khalifah tidak mengabulkannya. Laskar Islam saat itu
sedang terbagi di beberapa kota yang takluk dibawah kekuasaan Islam. Peluang
ini digunakan oleh kaum pemberontak dengan mengepung kediaman Utsman selam 40
hari.
Beberapa orang
sahabat yang utama mengirim putera masing-masing untuk melindungi jiwa Khalifah
Utsman bin Affan. Setelah pengepungan sampai pada hari ke delapan belas, Utsman
meminta bantuan kepada Mu’awiyah dan kepada wali-wali yanglain. Ketika para
pemberontak mengetahui akan hal itu, mereka makin naik darah dan sebagian
mereka memasuki kediaman Khalifah Utsman bin Affan. Mereka memukul Khalifah
dengan pedang sehingga membawa kematiannya dan merampas hartanya. Kejadian
nista yang sangat menyedihkan ini terjadi pada tahun 35 H. (656 M.)
Saya dengar Pesantren Darunnajah Cipining menyediakan banyak beasiswa. Saya sangat tertarik. Bisa dijelaskan?
Ya anda benar! Program beasiswa di Pesantren Darunnajah Cipining bisa didapatkan melalui banyak pintu. Setiap santri berhak mengambil beasiswa tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan banyaknya pintu tersebut, diharapkan para santri mendapatkan berbagai kemudahan sehingga bisa mendapatkan beasiwa melalui salah s
